Selasa, 03 November 2015

Tidak ada komentar:
TAKABUR 


A.  PENGERTIAN  SIFAT  TAKABUR

 

Takabur berasal dari bahasa Arab, yaitu “kabbara-yatakabbaru-takabburan” yang berarti merasa besar atau sombong. Sedangkan menurut istilah takabur adalah sikap berbangga diri dengan beranggapan bahwa hanya dirinyalah yang paling hebat dan benar dibandingkan dengan orang lain.
Takabur atau sombong merupakan sifat yang tercela dan berbahaya. Bagi orang yang takabur, Allah swt. akan memberi balasan berupa neraka jahanam, sebagaimana firman Allah swt. :

“Maka masuklah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka
 amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS An Nahl: 29)

 

Islam sangat melarang umatnya memiliki sifat takabur ( sombong ) karena kesombongan akan membuka jurang pemisah antara si kaya dan si miskin dalam lingkungan masyarakat. Disamping itu, kita harus sadar bahwa semua yang kita miliki hanyalah pemberian dan titipan Allah swt. Oleh karena itu , tidak ada alasan manusia untuk menyombongkan diri, bahkan sebaliknya kita harus mensyukuri setiap nikmat yang diberikan oleh Allah swt. sebagai nikmat dan karunia. Dalam Al-Quran juga dijelaskan, dengan firman Allah berikut:

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS 
16 : 36).

 

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar.” (QS 7 : 46 ).

 

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS 40 : 35).

B.  MACAM - MACAM  SIFAT  TAKABUR

Takabur dari segi objek atau sasaranya terbagi menjadi tiga macam, yaitu :

1.      Takabbur kepada Allah
Inilah bentuk takabbur terburuk, seperti yang pernah dilakukan oleh Namrud, Fir’aun dan sejenisnya. (QS. 40 : 60 dan 25 : 60).

2.      Takabbur kepada Rasul
Yaitu sikap tinggi hati, menolak mengikuti dan mematuhi Nabi, karena menganggapnya sebagai manusia biasa (QS. 23:34, 36:15). Seperti yang dinyatakan kaum kafir Quraisy kepada Nabi : “Bagaimana kami bisa duduk di sisimu hai Muhammad, sementara yang ada di sekitarmu orang-orang faqir”

3.      Takabur atas sesama manusia
Yaitu dengan membanggakan diri dan meremehkan orang lain. Takabbur ini meskipun tidak seberat yang pertama dan kedua, namun masih sangat berbahaya karena :
·         Kebesaran dan kehormatan hanya milik Allah, selainnya lemah dan terbatas.
·         Ketika seseorang takabbur, ia merampas salah satu sifat kebesaran Allah.

Menurut pandangan tersebut di atas, secara umum takabur dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :

1)      Takabur Batini ( Takabur dalam sikap )
Takabur batini atau batin adalah sifat takabur yang tertanam dalam hati seseorang sehingga tidak tampak secara lahir/fisik, seperti seseorang yang mengingkari kebenaran yang datang dari Allah swt. padahal dia mengetahui kebenaran tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari orang yang termasuk golongan takabur batin memiliki sikap, antara lain enggan minta tolong kepada orang lain meskipun ia membutuhkan serta tidak mau berdoa untuk memohon pertolongan Allah swt. padahal semua persoalan yang kita hadapi tidak dapat diselesaikan sendiri tanpa pertolongan-Nya. Allah STW. berfirman :

“Kuperkenankan (Kukabulkan) bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mukmin : 60).

2)      Takabur Zahiri ( Takabur dalam Perbuatan )
Takabur zahiri adalah sifat takabur yang dapat dilihat langsung dengan panca indra, seperti dalam bentuk ucapan dan gerakan anggota tubuh. Contohnya, riya, angkuh, dan memalingkan muka terhadap orang lain. Allah swt. tidak menyukai orang-orang yang memalingkan muka (sombong) sebagaimana terdapat dalam Surah Luqman Ayat 18 berikut :

Artinya : “Janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)

Adapun contoh-contoh perilaku takabur atau sombong dalam kehidupan sehari-hari adalah :
1.      Suka memuji diri dan membaggakan diri, harta, ilmu, keturunan maupun pangkat dan jabatan.
2.      Selalu ingin dipuji.
3.      Memandang dirinya lebih sempurna dibandingkan siapapun.
4.      Meremehkan / merendahkan orang lain.
5.      Memalingkan muka ketika bertemu dengan orang lain.
6.      Suka mencela dan mengkritik orang lain dengan maksud menjatuhkannya.
7.      Berlebih-lebihan dalam berpakaian
8.      Berlagak dalam berbicara
9.      Pemboros dalam harta benda.
10.  Selalu membanggakan dirinya
11.  Selalu mengecilkan orang lain
12.  Sakit hati jika ada yang menyaingi
13.  Mementingkan diri sendiri
14.  Selalu berkhayal akan kelebihan diri sendiri dan cepat merasa puas.

Ada banyak hal yang dapat digunakan untuk menguji keberadaan takabbur pada diri seseorang, antara lain lima hal berikut ini :

a.       Berdiskusi dengan sesama teman. Jika kebenaran muncul dari orang lain, bagaimanakah tanggapannya, keberatan atau menrima dengan senang.
b.      Berkumpul dalam sebuah haflah (acara). Lalu ada orang lain yang lebih diprioritaskan, apakah sikapnya keberatan atau tidak.
c.       Memenuhi undangan orang miskin. Pergi ke pasar membelikan sesuatu untuk orang lain
d.      Membawa keperluan sendiri, keluarga, atau sahabat dari pasar atau tempat lainnya sampai rumah. Jika keberatan maka ada takabbur. Jika mau karena terpaksa maka itu kemalasan. Jika mau karena disaksikan banyak orang maka itu riya’.
e.       Mengenakan pakaian yang sudah kusam. Dsb.

C.  PENYEBAB  ADANYA  SIFAT  TAKABUR  DALAM  DIRI  MANUSIA

Pada umumnya orang yang sombong adalah orang yang memiliki kebanggaan diri, karena memiliki sifat,kemampuan atau prestasi lebih dari yang lain.

1.      Ilmu
Takabbur karena ilmu sangat mudah terjadi, yaitu dengan munculnya perasaan lebih mulia dari orang lain. Atau merasa telah mendapatkan tempat mulia di sisi Allah dengan ilmunya (QS 58:11). Ia lebih mengkhawatirkan orang lain daripada diri sendiri. Kesombongan karena ilmu ini mudah terjadi karena dua hal :
·         Ilmu yang dipelajari bukan ilmu hakiki. Karena hakekat ilmu adalah yang mampu memperkenalkan manusia akan Rabb-nya, keadaan ketika bertemu Allah dan hijab yang menghalanginya dari Allah. Ilmu yang demikian akan melahirkan sikap tawadhu’(rendah hati) bukan takabbur. QS 35:28
·         Keadaan hati yang kotor saat menuntut ilmu, sehingga salah niatnya dan jadilah takabbur dengan ilmu yang didapatnya.

2.      Amal Ibadah
Orang yang masuk dalam kehidupan zuhud (konsentrasi dalam ibadah) tidak otomatis terbebas dari takabbur. Misalnya dengan zuhudnya itu, merasa lebih layak dikunjungi daripada mengunjungi. Lebih layak dibantu daripada membantu, menganggap orang lain sengsara di neraka dan merasa hanya dirinya yang selamat. dst. Rasulullah bersabda :

“Jika kamu mendengar ada orang yang berkata : “Binasa semua manusia” maka dialah yang paling dahulu binasa.” HR Muslim.
Dengan pernyataan ini ia membanggakan diri dan meremehkan orang lain.

3.      Hasab (kedudukan) dan Nasab (keturunan)
Orang yang berasal dari keluarga terhormat mudah meremehkan orang lain yang datang dari keluarga bukan terhormat, meskipun orang itu lebih baik ilmu dan amalnya, dan bahkan takabbur karena faktor ini sering kali membuat ia menganggap orang lain sebagai budaknya, dan rasa keberatan untuk berbaur dengan mereka.

Dari Abu Dzarr ra berkata : Suatu hari pernah aku bersengketa dengan seseorang (Bilal) di hadapan Nabi. Lalu aku berkata kepada orang itu “Hai anak hitam”. Nabi segera memotong ucapanku: “Hai Abu Dzarr, tiada lebih baik orang putih dari yang hitam, kecuali dengan taqwa”. Mendengar itu saya berbaring dan mempersilahkan Bilal untuk menginjak-injak muka saya.” HR Ahmad.
Dalam hadits di atas, Rasulullah segera menegur orang yang merasa lebih baik keturunannya. Dan Abu Dzarr segera bertaubat menyesali perbuatannya.

4.      Al Jamal (ketampanan/kecantikan)
Takabbur karena faktor ini lebih banyak terjadi di kalangan wanita, terwujud dalam celaan, atau gunjingan terhadap kekurangan fihak lain.

Aisyah ra berkata : Ada seorang wanita yang ingin bertemu Nabi, dan aku katakan kepada Nabi dengan isyarat tanganku yang menunjukkan bahwa wanita itu pendek. Sabda Nabi ketika itu :”Sesungguhnya kamu telah menggunjingnya”.

Sikap ini muncul karena adanya kesombongan dalam diri orang seperti Aisyah yang berpostur tubuh lebih baik dari orang tadi. Sebab jika ia berpostur tubuh pendek seperti orang yang diceritakan itu, tentu ia tidak akan mengatakannya.

5.      Al Maal (kekayaan)
Takabbur karena kekayaan ini banyak terjadi di kalangan pejabat, penguasa, pedagang, tuan tanah, dan mereka yang memilikinya. Orang yang merasa lebih kaya meremehkan orang yang dipandang kurang kaya dengan ucapan maupun sikap-sikap lainnya. Seperti ungkapan : “uang jajan anak saya sehari, cukup kamu makan seumur hidupmu, dst.

Hal ini terjadi karena ketidak tahuannya akan fadhilah (keutamaan) orang miskin dan bahaya kekayaan. Seperti yang pernah terjadi pada pemilik dua kebun yang congkak dan akhirnya binasa (QS. 18:34-42) atau Qarun yang akhirnya binasa bersama hartanya (QS 28:79-81).

6.      Al Quwwah (kekuatan)
Kekuatan dan kegagahan dapat memunculkan takabbur atas mereka yang lemah dan tidak berdaya.

7.      Al Atba’ (pengikut/pendukung)
Banyaknya pengikut, pendukung, murid, keluarga, kerabat, dsb. sering memunculkan kesombongan pada orang yang memilikinya. Seorang guru menjadi takabbur karena merasa banyak muridnya. Seorang pejabat menjadi takabbur karena banyak pengikutnya, dst.

Secara umum, setiap nikmat yang bisa dianggap sebagai nilai lebih pada seseorang berpotensi untuk melahirkan benih takabbur pada seseorang.

D.   DAMPAK  DARI  SIFAT  TAKABUR

Sifat takabur adalah sifat tercela yang harus dijauhi oleh setiap mukmin, karena banyak menimbulkan akibat negatif. Adapun beberapa dampak negatif / akibat sifat takabur adalah sebagai berikut :

1.      Mendekatkan seseorang untuk berbuat dosa
2.      Tidak percaya adanya hari pembalasan.
3.      Dibenci oleh Allah SWT, serta dikucilkan masyarakat.
4.      Ingkar kepada kebenaran.
5.      Terhalang masuk ke surga.
Hal ini sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah SAW.
Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan seberat dzarah ( seberat biji sawi )” (HR. Muslim).

E.   CARA  MENGHINDARI  SIFAT  TAKABUR

Sebagai umat Islam yang beriman, kita harus berusaha menjauhi sifat takabur agar tidak tertanam dalam hati kita. Berikut ini cara-cara menghindari sikap dan  perilaku takabur :

1.      Selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.
2.      Senantiasa mensyukuri kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT.
3.      Beramal dengan ikhlas hanya karena Allah bukan karena mengharpkan pujian manusia.
4.      Menghormati orang lain dan menghargai pendapatnya.
5.      Memahami dan menyadari tentang bahaya takabur, baik bahayanya di dunia maupun bahaya di akhirat nanti.
6.      Menerima setiap nikmat maupun kelebihan yang dimiliki semata-mata karena karunia Allah SWT.
7.      Selalu mensyukuri nikmat Allah.
8.      Menyadari bahwa asal kejadian semua manusia adalah sama.
9.      Berusaha untuk dapat bergaul dengan siapa saja denga baik, tanpa membeda-bedakannya.
10.  Menjauhi perbuatan sia-sia atau maksiat
11.  Mencontoh kepribadian rasulullah saw.
12.  Menyadari kekurangan diri.

Semoga Bermanfaat :) 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top